My Blog

All pictures were captured by my sony camera given by my hubby, kamera pocket yang handy dengan hasil yang memuaskan :)

Sabtu, 28 April 2012

Leiden; Berkunjung demi membaca (melihat) manuscript 'La Galigo'

Sejak membaca tulisan kak niar tentang 'La Galigo" yang menyebutkan bahwa  manuscriptnya bisa ditemukan di perpustakaan Universitas Leiden (Leiden universiteit Bibliotheek), saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tinggal di Belanda (yang tinggal beberapa bulan) tanpa melihat secara langsung manucript 'La Galigo'. Setelah membaca ulasan kak niar, saya mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya akan menyesal seumur hidup bila tidak mendatangi Leiden dan melihat manuscript La Galigo. 

Saya pun menghubungi teman yang sedang study di Eindhoven yang saya tahu sangat tertarik untuk menelusuri sejarah Sulawesi. Ketertarikannya itu membawanya ke banyak museum yang berisi beberapa barang peninggalan bersejarah asal sulawesi. Ah entah sudah berapa museum yang dimasukinya. Saya sangat salut dengan semangatnya menelusuri warisan leluhur, terlebih lagi saat ia mengutarakan ingin membuat sebuah museum agar warisan peninggalan leluhurnya tidak terabaikan. Sungguh cita-cita yang mulia, dan saya sebagai penikmat (kisah-kisah) sejarah tentunya sangat setuju. Ah ya, mari kembali ke pemburuan kami membaca manuscript La Galigo.


Teman saya berhasil menghubungi kurator La Galigo, dan kami diberi kesempatan untuk datang pada hari kerja. Tentu saja pilihan yang cukup berat bagi kami yang sama-sama masih berstatus mahasiswa untuk menyesuaikan jadwal berkunjung ke Leiden dengan jadwal riset serta kuliah di kampus kami masing-masing.  Waktu tempuh Groningen-Leiden adalah 3 jam, dan waktu tempuh Eindhoven-Leiden adalah dua jam (dengan menggunakan kereta intercity). Bila ingin berkunjung maka kami harus meluangkan waktu seharian di Leiden, hal yang sangat sulit dijadwalkan pada hari kerja (weekdays) oleh mahasiswa tingkat akhir seperti kami. Hingga akhirnya, 27 April 2012 ini kami sama-sama berkesempatan meluangkan waktu demi manuscript La Galigo. Sayangnya kuratornya sedang off pada hari jumat, tapi beliau akan memberitahu teman kerjanya perihal kedatangan kami untuk membaca special collection milik perpustakaan Universitas Leiden.

Demi menghemat biaya perjalanan (versi student rantau :p) kami menggunakan Dagkaart yang pada hari kerja baru bisa digunakan di atas jam 9 pagi, sehingga waktu berkunjung yang paling memungkinkan adalah siang hari. Yah, gak papalah, setidaknya kami punya waktu setengah hari untuk melihat manuscript ini. Kami tiba di Leiden sekitar jam satu siang, dan bergegas menuju perpustakaan Univeristas Leiden. Perpustakaan ini berlokasi di Witte Singel 27, 2311 BG Leiden. Menurut informasi yang kami dapatkan dari om Google, berjalan kaki dari stasiun menuju perpustakaan hanya 15 menit dengan menempuh jarak 1,3 km, sementara bila naik bus hanya butuh waktu 4 menit. Kami memutuskan berjalan kaki sambil menikmati suasana kota Leiden. Ternyata, berjalan kaki 15 menit itu ditujukan untuk para bule yang ritme berjalannya lebih cepat dengan langkah yang lebih lebar karena postur tubuh yang tingginya di atas rata-rata. Sementara bagi saya, waktu tempuh dengan berjalan kaki ini butuh 20-30 menit (blushing), hehe.

Kesan pertama untuk kota Leiden adalah kota yang menyenangkan, dengan kanal-kanal sepanjang jalan. Ah ya, dimana-mana di Belanda memang berkanal-kanal. Tapi entahlah, saya kok merasa kanal-kanal di Leiden ini lebih indah, hihi. Toilet di stasiunnya pun menurutku yang paling 'keren'. Beneran loh, ini bener-bener keren! Tapi dibahasnya dipostingan yang lain aja ah, hihi... Yup back to topic aja yuk.

Kami berjalan menyusuri kanal-kanal dan melewati kincir angin, hingga sampailah kami di jalan Witte Singel. Hore, sebentar lagi kami bisa melihat manuscript La Galigo! Kami mempercepat langkah kaki, agar bisa segera sampai di depan perpustakaan. Dan voila, inilah yang kami lihat di depan perpustakaan Universitas Leiden. Sebuah gedung dengan tulisan huruf 'Lontara' di dasarnya. Ada yang bisa baca? (saya sudah lupa doh! tepukjidat). 

Kami bergegas masuk ke perpustakaan Leiden karena sadar waktu yang kami miliki sangat terbatas. Untuk masuk ke perpustakaan, anda membutuhkan LU Card, demikian kata resepsionis di gedung perpustakaan. Siswa Universitas di seluruh Belanda bisa mendapatkan kartu ini GRATIS dengan menunjukkan kartu student dan verblijft (sama dengan KTP klo di Indonesia) bila anda adalah siswa international, sementara bila bukan siswa bisa meminjam kartu sementara untuk mendapatkan akses ke dalam perpustakaan. Hanya saja, agar bisa mendapatkan kartu pinjaman, rekomendasi dari kurator mungkin diperlukan (gak yakin, tapi kyknya iya deh :p). Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, kami pun mendapatkan LU Card beserta akun untuk mengakses komputer di perpustakaan. Kartu ini berlaku  setahun dan bisa kami gunakan untuk meminjam buku-buku koleksi perpustakaan Universitas Leiden. 


Saya sangat ber'wah wah' dengan sistem keamanan untuk bisa masuk ke perpustakaan ini. Untuk akses ke pintu utama perlu kartu, begitupun untuk akses ke beberapa pintu lainnya. Semacam mau masuk ke stasiun metro di Paris saja, harus menscan kartu dulu baru pintu masuknya terbuka :p. 

Pintu keamanan terlewati, kami segera ke bagian 'special collection' dengan melewati computer room. Special collection yang menyimpan La Galigo ada di lantai dua. Setelah mengisi form yang berisi kode buku yang kami inginkan, kami disuruh menunggu sejam hingga staf perpustakaan menemukan buku yang kami order. Begitulah mekanisme yang harus dilewati bila ingin membaca manuscript bersejarah, simple dan tidak berbelit-belit. Stafnya pun sangat ramah, membuat kami semakin merasa nyaman berada di dalam perpustakaan. Oh iya, bila order untuk membaca buku dimasukkan setelah jam setengah empat sore, maka bukunya baru tersedia keesokan harinya. Fyuh, untunglah orderan kami masuk sekitar jam 2 siang, jadi cukup menunggu sejam saja, gak kebayang kalau harus datang lagi hari senin berikutnya.

Sungguh, perpustakaan Leiden adalah harta karun sejarah, sangat banyak manuscript yang tersimpan di perpustakaan ini. Manuscript asal Turki, Indonesia, Timur tengah dan lain-lain banyak dikoleksi disini. Setelah sejam kami kembali ke bagian special collection. Kami sudah tidak sabar ingin melihat La Galigo!

Jantungku berdebar kencang, semakin tidak sabaran ingin menyentuh langsung dan membuka lembaran demi lembaran manuscript ini. Kami penasaran seperti apa bentuknya, seperti apa sampulnya, seperti apa isinya? Kami menerka-nerka manuscript yang tersimpan disini selain yang asli yang ditulis diatas daun lontara dan yang ditulis ulang oleh Colliq Pujie (Arung Pancana Toa) , ada juga versi yang sudah diartikan ke bahasa lain. Dengan membaca versi ini, yang dalam benak kami berbahasa Inggris dan please jangan dalam bahasa Belanda, kami bisa dengan mudah mengerti apa isi La Galigo, kisah apa yang dituturkan dalam karya sastra terpanjang di dunia ini!

Di depan kami  beberapa volume La Galigo sudah tersedia. Librarian dengan cekatan mengambil salah satu volume, menimbangnya lalu menyerahkannya kepada kami. LU card dijadikan jaminan hingga kami mengembalikan manuscript ini. Sebelum benar-benar menyerahkan manuscript, librarian menghimbau kami agar berhati-hati dalam membuka lembar demi lembar karena kertasnya sudah sangat rapuh. Bahkan, manuscriptnya harus diletakkan di atas bantal agar tidak mudah koyak. Pupus sudah harapan kami untuk bisa membaca versi yang sudah diartikan bersamaan dengan pupusnya harapan kami untuk melihat versi asli yang tertulis di atas daun lontara'. Yang ada di depan kami adalah yang ditulis ulang oleh Colliq Pujie atas permintaan Benjamin Frederik Matthes (1810-1908). Tapi kami tak kecewa, bisa melihat versi ini saja sudah sangat memuaskan hati kami. 

Dengan sangat berhati-hati kami membuka lembar demi lembar, sambil berusaha mengingat kembali pelajaran bahasa daerah zaman SMP dulu. Ah, saya sudah benar-benar lupa cara membaca huruf lontara', dan saya sangat menyesali hal itu! Sungguh saya sangat ingin membaca baris demi baris huruf lontara' yang tertulis dimanuscript ini. Kami berusaha mengingat huruf demi huruf, tapi nihil. Akhirnya waktu kami habiskan dengan mengamati lembar demi lembar, sambil berdiskusi tentang asal muasal karya sastra ini. Sayangnya hasil diskusi kami tidak benar-benar memuaskan karena minimnya informasi yang kami miliki beserta tanpa kurator yang bisa menambah pengetahuan kami tentang La Galigo. 

Manuscript La Galigo tertulis dengan sangat rapi dan indah. Meski banyak coretan di sana-sini yang mungkin dilakukan oleh orang yang memperlajari manuscript ini, tidaklah sama sekali mengurangi keindahan tulisan lontara milik Colliq Pujie. Kami melihat beberapa coretan dengan menggunakan spidol berwarna dan pensil dimana-mana. Kami berusaha membaca coretan itu, untuk menjawab teka-teki, La Galigo ini ditulis dalam bahasa Bugis atau Makassar? Kalau dilihat dari coretan-coretannya sih tampaknya berbahasa Makassar, tapi ada juga beberapa kata yang berbahasa Bugis. Kami jadi bingung, hehehe... Mungkinkah kitab ini ditulis dalam bahasa makassar dan bugis? ataukah dulu bahasa makassar dan bugis sama saja? ataukah cerita ini telah diceritakan turun temurun seantero sulsel sehingga ada yang menceritakan dalam bahasa makassar dan ada yang menceritakannya dalam bahasa bugis. Kami terus-menerus berspekulasi tapi tidak menemukan jawabannya. Sekali lagi, kami sangat menyayangkan ketidakhadiran kurator dan kebutaan kami dalam membaca huruf lontara'. Ataukah ada teman-teman yang tau La Galigo ini ditulis dalam bahasa apa? 

Sejenak kami memandang ke sekeliling ruangan. Ruangan ini kebanyakan berisi orang-orang tua yang sedang membaca dengan khidmatnya, bila ada anak muda maka kemungkinan mahasiswa sastra yang sedang mengerjakan tesisnya. Tampaknya yang ada diruangan ini adalah para sejarawan yang tak henti-hentinya menggali sejarah masa lalu. Disebelah kami duduk seorang bapak yang sedang membaca manuscript berbahasa Arab. Sesekali ia mendekatkan manuscript itu ke dekat jendela lalu memotretnya, lalu kembali lagi ke laptopnya mengetik dan seterusnya. Dari gayanya ia seolah semakin tercerahkan, tersenyum sambil mengetik, mengcopy foto, lalu membaca lagi lalu memfoto lagi dan begitu seterusnya. Bapak ini bekerja dengan riang, sangat kontrast dengan bapak lebih muda yang sedang duduk disebelahnya. Wajahnya tegang dan tampak pusing membaca tumpukan buku-buku di depannya. Dari wajahnya kami bisa menerka ia orang Indonesia, berkali-kali kami melayangkan senyum padanya tapi tak berbalas. Aduhai betapa susahnya mendapat membalas senyum sekarang ini. Namun kami mencoba mengerti, mungkin ia sedang dipusingkan oleh tesisnya sehingga membalas senyumpun ia lupa.

Menyadari kami adalah tiga makhluk aneh diruangan itu, mahasiswa teknik dan farmasi sedang membaca sejarah eits manuscript La Galigo berhuruf lontara', sontak kami menertawai diri, nyambung dimana? hahaha.. Ah kecintaan kami pada sejarahlah yang membawa kami kesini. Kekaguman kami pada warisan leluhurlah yang mendorong kami berjauh-jauh, meninggalkan kegiatan kampus demi melihat manuscript ini. Dan kami semakin kagum pada leluhur kami, yang punya jiwa sastra tinggi mampu membuat karya sastra terpanjang di dunia melebihi Mahabrata. Yup La Galigo dari Sulawesi Selatan kawan! 

Jam sudah menunjukkan pukul lima, kami memutuskan untuk segera pulang karena perut kami pun sudah mencicit, entah kami kelaparan karena menguras otak berusaha mengingat cara membaca huruf lontara' atau karena makan siang kami adalah fast food yang tanpa nasi. Kami tak tahu, yang kami tahu kami lapar dan ingin segera mencari rumah makan. Hari semakin sore namun matahari masih enggan terbenam, kami pamit pada librarian yang ramah itu, sambil bertekad akan kembali lagi July nanti, dan selama rentang waktu menuju July kami akan berusaha belajar membaca huruf lontara' lagi. Bukankah saat SMP kami pernah bisa? Maka saat ini kamipun harus berusaha untuk bisa lagi membaca huruf lontara'. 

Groningen, 28 April 2012
Tiba-tiba rindu pada lagu Sulawesi Pa'rasanganta'.

3 komentar:

  1. * Wow ... ulasan yang menarik Idha.
    * Jadi kalo ada waktu tempuh by walking di negeri para bule itu berarti kita harus ditambah 5 menit ya? :D
    * Andai kanal Rappocini seperti kanal di Belanda :P
    * Bapak2 itu bisa foto manuscript berbahasa Arab, koq Idha nda ikut foto manuscript La Galigo?
    * Aih keren ..... bagi saya yang ditulis oleh Colliq Pujie itu yang asli mi :P
    * Trus foto2 selama berjalan kaki ke museum nda ada?

    Maafkan komenku yang kepanjangan. Makasih ya, sudah dicolek di FB. Senang membaca ulasan yang mantap ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kakak, hehehe....
      * iya kak, krn kakinya bule2 itu panjang2, kalah sama kakiku yg pendek :p
      * semoga suatu saat nanti kanal2 di mks sdh kyk kanal2 disini :p
      * Adaji kufoto kak manuscriptnya, utamanya halaman2 awal, tapi kan ada aturannya klo foto dari manuscript ini tdk bs diedarkan tanpa izin, jdi meskipun sdh kufoto tetap tdk kumasukkan fotonya (taat aturan :p).
      * iya kak, tulisannya Colliq pujie rapi sekali... saluutt...
      * Ada kak, nanti saya upload di fb saja nah kak, bru ku tag ki lgi, hehehe....

      Hapus
  2. informasi yang sangat menarik, mengesankan. Tulisannya juga easy dan mudah dicerna. Saya sangat tertarik pada bagian paragraf " teman anda yg di eindhoven itu bahwa dia ada keinginan utk membuat sebuah museum". Apakah ada kemungkinan utk bekerjasama..? kebetulan saya mengenal baik salah satu pewaris kerajaan Gowa Tallo dimana beliau sangat gigih menjaga puluhan ribu pusaka kerajaan Gowa-Tallo yg masih orisinil. Namun kondisinya sangat memprihatinkan, mengingat beliau menjaga warisan2 berharga itu seorang diri. Selama ini, beliau tidak percaya dengan proteksi keamanan pemerintah Sulsel utk menjaga barang2 peninggalan, karena banyaknya kasus penjarahan dan pencurian benda2 pusaka kuno. Dia berharap, ada kerjasama dengan person yang sangat peduli dengan peninggalan warisan budaya serta memiliki pribadi yang bisa dipercaya. Saya berharap bisa mendapatkan informasi anda mengenai hal ini. Jika berkenan kita bisa hub email saya di indiart26@gmail.com.

    BalasHapus